Review Novel “I Want to Eat Your Pancreas”


Blurb
Aku menemukan sebuah buku di rumah sakit.
Judulnya Cerita Teman si Sakit.
Pemiliknya adalah Yamauchi Sakura, teman sekelasku
Dari sana aku tahu dia menderita penyakit pankreas.
Buku itu adalah buku harian rahasia miliknya.
Namun gadis itu tidak seperti orang sakit.
Dia seenaknya sendiri,dia mempermainkan perasaanku,
dia suka menggodaku.
Dan dia,, mungkin dia mulai menarik hatiku.

Review saya,
Ini adalah novel jepang pertama yang saya baca, berhubung direkomendasikan oleh seorang teman. Namanya Aldi anak Bogor (merekomendasikan sekaligus meminjamkan) hihi.
“Terimakasih bro!”
Awalnya saya kurang tertarik dengan kisah cinta versi jepang. Karena saya pernah menonton film romantis jepang yang cenderung berlebihan dan terlalu dramatis, jadi aneh (contoh : Lovely Complex, Koizora, Kimi Ni Todoke) lalu saya jadi tidak terlalu suka kisah cinta yang dari jepang.
Namun penilaian saya berubah karena novel ini.
Saya menangkap makna novel ini yang sering  mengulik kehidupan, kematian.
Tema novel ini yang sering mengungkit kematian, juga membahas nilai kehidupan. Tokoh utama pria introvert yang namanya tidak dijelaskan dengan gamblang –seringnya hanya pakai kata “aku”-, sering mengutarakan pemikiran filosofisnya dalam novel ini.
Contohnya pada halaman 76
Semua manusia memang tidak terlihat jika sebenarnya mereka akan mati. Aku, orang yang dibunuh oleh penjahat, juga gadis ini, masih hidup sampai kemarin. Kami hidup tanpa menunjukkan tanda-tanda akan mati. Jadi begitu rupanya.. mungkin itulah yang disebut nilai hidup siapa pun hari ini adalah sama.
Lalu dia juga melanjutkan pikirannya perihal gadis itu masih di halaman 76,
Ya aku paham. Yang merasa kasihan terhadap hidup gadis itu pasti memiliki rasa percaya diri yang terlalu tinggi. Angkuh, karena orang tersebut terlalu yakin tidak mungkin mati lebih dulu dari gadis itu.
Setelah saya telusuri penyebab novel ini cenderung filosofis bisa jadi karena si penulis yaitu Sumino Yoru cukup terpengaruh oleh novel lain yang terasa dekat dengan filosofi juga. Seperti pada halaman 91 penulis memasukkan judul novel “No Longer Human” yang membahas tentang manusia dalam menghadapi kehidupan sosial serta perasaan keterasingan. Kemudian pada halaman 159, rupanya penulis juga memasukkan judul novel “The Little Prince”, cerita pertemuan pilot dengan pangeran kecil saat kesunyian di gurun, novelnya membahas pandangan kehidupan dengan bahasa metafor planet-planet, rubah, mawar.
Saya salut dengan cerita ini, meski novel debut milik Sumino Yoru, namun bahasa penyampaiannya yang luwes sehingga bisa membawa pembaca masuk ke dalam kehidupan para tokohnya -bahkan meski terjemahannya-.  Kabarnya novel ini memenangkan berbagai penghargaan. Novel ini terjual lebih dari 1,8 juta eksemplar di negerinya, juga sudah banyak dialihbahasakan dan diterbitkan di banyak negara lain.  Terbukti kan kalau novel ini memang bagus.

Meski jenis alur ceritanya sudah sering diangkat oleh para penulis lain (lelaki bertemu wanita sakit lalu sesuatu terjadi) –ya banyak sekali yang memakai alur itu- , namun novel ini punya keunikannya sendiri. Karakter tokoh yang berbeda, lelaki introvert, sedangkan si wanita yang mudah bergaul. Membuat cerita ini punya sudut pandang masing-masing bagi para tokoh. Gaya penceritaannya pun unik, karena Sakura (gadis yang sakit) menyembunyikan penyakitnya serta menjalani pengobatan agar tidak terlihat sakit –dia tidak ingin orang di sekitarnya bersikap aneh-. Namun secara kebetulan tokoh Aku mengetahui penyakit dari Sakura melalui buku yang tak sengaja ia baca. Rupanya buku itu semacam buku wasiat dari Sakura untuk orang-orang dekatnya nanti setelah mati.

Hal unik yang saya suka dari novel ini, “novel ini tidak berlebihan dalam memberikan kisah romansanya”. Yang dilakukan mereka berdua terlihat wajar dan tidak terlalu dramatis. Ini yang membuat saya suka.
Hihihi,
Meski yang dilakukan mereka polos wajar, ada hal-hal yang membuat tersentuh seperti saat mereka bermain kartu “kebenaran” atau “tantangan” di halaman 137.
Sewaktu kartu terakhir, ada dialog dari Sakura yang bertanya
"Kalau aku mengatakan bahwa sebenarnya aku benar-benar takut mati,apa yang akan kau lakukan?”
Padahal sebelumnya Sakura tidak pernah menampakkan kalau dirinya takut mati, dalam cerita sebelum kalimat itu muncul, dia selalu terlihat sangat ceria dan sering tersenyum. Sejak dialog itu, saya sebagai pembaca jadi bisa merasakan bahwa Sakura memiliki rasa takut dengan kematiannya.
Banyak kejutan yang dilakukan kedua tokoh ini, endingnya pun juga tidak disangka. Interaksi mereka yang polos sangat manis, yang pastinya bisa mengayun-ayunkan perasaan pembaca. Kisah cinta mereka pun tidak kekanakkan, dan hubungan mereka tidak sekedar terdefinisikan sebagai hubungan pacaran atau sahabat.

Hubungan mereka telah melampaui dari hanya status seperti itu.
Pantas saja teman saya merekomendasikan novel ini.
Dan saya pun setelah membaca novel ini juga merasa novel ini layak untuk direkomendasikan untuk anda baca.
Hihihi
Tambahan #Kabarnya Novel ini sudah ada filmnya loh..
Judulnya Let Me Eat Your Pancreas
(Kimi no Suizo wo Tabetai)
Ini pamfletnya
Share:

2 comments

Hi. I use the sample template and I need a small help to customize the sharing options from the post. Can you please let me know your mail ID so that I can write to you?

hi..oh sure,,eh wait..Are you shree who just followed me on instagram?
let's chat on ig, cz i rarely open mailbox