Tentang revisian pertama, rasa malas, dan terimakasih teman [curhat skripsi part 5]

Revisian saya ini baru yang pertama kali, makanya banyak yang perlu diedit lagi. Ada yang butuh untuk ditambahkan referensi dari jurnal yang baru lagi, ada yang perlu diganti kata-katanya, ada yang perlu diganti format penulisannya. Dan hampir semua halaman ada yang perlu diedit. Memang sih hal itu bagus, jadi detail dan tidak membuat saya bingung dengan langkah-langkah yang perlu saya lakukan. Namun ternyata ada efek samping juga dari revisian yang dari awal sampai akhir ada editannya, yaitu rasa malas.

Ehh, ini baru sekedar tebakan sih. Atau bisa saja rasa malas ini sebenarnya karena kurangnya motivasi. Dan asal kamu tahu, saya mengerjakan revisian ini butuh waktu yang sangat lama, sekitar 20 hari. Bukan karena susah, atau karena banyak yang perlu diedit, bukan. Namun hal itu hanya karena malas. Sekarang saya jadi tahu, kenapa banyak mahasiswa S1 yang wisudanya telat dari target, yang sebenarnya bisa saja lulus 4 tahun atau bahkan 3,5 tahun. Ya itu! Karena rasa malas! wisuda bisa jadi molor hingga 5 tahun atau bahkan dimaksimalkan 8 tahun. wkwk

Saya mengatakan rasa malas yang menyebabkan tertundanya wisuda ya karena saya melihat sendiri teman-teman saya yang rajin sudah ada yang 80 % penelitiannya, di saat saya baru saja ribut memikirkan proposal alias mungkin baru mencapai 5 % saja dari total proses untuk lulus, mereka sangat mungkin untuk lulus ya mungkin hanya hitungan minggu lagi lah, sedangkan saya? hitungan bulan pun mungkin tidak cukup hanya pakai satu tangan. Karena melihat teman-teman saya tersebut saya menjadi naik lagi motivasi untuk mengerjakan revisian. Saya ingin wisuda di bulan september, target saya.

Teman-teman saya tersebut memang terlihat lelah mengerjakan penelitiannya di lab, dari pagi hingga malam. Tidak mengenal libur, setiap hari mereka berangkat ke lab untuk melakukan penelitian Tugas Akhir mereka. Saya salut dengan kerja keras mereka, saya merasa minder jika melihat semangat mereka. Wah, mereka saja berjuang dengan begitu kerasnya, masa saya yang cuma baru proposal sudah terkesan kalah. Mereka menasehati saya dengan kalimat begini
“satu hari menunda mengerjakan penilitian sama saja menunda satu hari untuk wisuda”.
Makanya mereka sangat bersemangat mengerjakan penelitiannya.
Sejak bertemu mereka, saya selalu dihantui gejolak batin untuk mengalahkan rasa malas ini. Hingga akhirnya saya beranikan diri untuk membuka lagi folder TA bismillah (folder yang berisi dokumen Tugas Akhir S1 punya saya), dan saya buka dokumen Revisi 1.docx
(Screenshot)
Gejolak batin ini mulai membuat jari-jari saya menekan tombol keyboard, mengedit dokumen ini menjadi seperti apa yang disarankan dosen pembimbing saya. Dengan sabar saya mengedit dari awal, sedikit demi sedikit. Jika ada yang belum bisa saya edit, misal karena bingung atau karena belum menemukan jurnal baru, saya tinggalkan dulu dengan memberi penanda di kalimat tersebut dengan highlight color warna kuning.

(Screenshot)
Saya lanjutkan mengerjakan revisian, dengan teliti dan memperhatikan apa yang dosen pembimbing saya sarankan. Ketika rasa kantuk sudah datang, saya tutup dulu laptop saya, lalu tiduran dan mendengarkan musik sejenak untuk merefresh pikiran. Dan ketika kelopak mata ini semakin berusaha menyelimuti mata saya, saya langsung matikan laptop, matikan lampu, dan membiarkan alam mimpi membawa saya kesana.
Keesokan harinya, saya beranikan diri saya lagi melakukan seperti yang tadi malam saya kerjakan. Melakukan kegiatan yang membosankan ini, namun suatu keharusan. Huffff, tolong Kapten Jack Sparrow, jadikan aku awak kapalmu. Berikan aku kesempatan untuk ikut berkelana mengarungi samudera. Dan gunakan leluconmu untuk mengelabuhiku. Namun, Jack Sparrow hanya tertawa dan menamparku untuk menatap revisian saya lagi. Dia mengatakan,
“The problem is not the problem. The problem is your attitude about the problem. Do you understand?"

Dan akhirnyaaaaa, dengan ketekunan, dengan kesabaran, dengan kerja keras, dengan keringat, dengan cambuk motivasi di pikiran saya,
“revisian saya hampir selesai”
Ternyata mengedit revisian ini hanya memakan waktu dua hari saja.

Saya tinggal mengedit 1 kalimat lagi. Dan itu saya kerjakan nanti di kampus saja, karena saya lupa data berat sampel. Dan saya tidak punya datanya di kosan.
(screenshot)
Huhhhh..Leganya, ternyata enak ya kalau kita melaksanakan tanggung jawab, daripada meninggalkannya. Meninggalkan tanggung jawab memang enak pada awalnya, namun semakin lama semakin membuat saya tertekan. Berbeda sekali ketika tanggung jawab tersebut dikerjakan, begitu selesai, mengerjakan tanggung jawab, saya merasa bebas. Ohhh, Jack, tampar aku sekali lagi!

Terimakasih teman-temanku, karena kalian saya jadi termotivasi lagi untuk mengerjakan revisian ini.

Untuk kamu pembaca yang mungkin sedang terpuruk atau sedang berada di tingkat kemalasan yang tinggi, semoga tulisan ini bisa membuatmu jadi termotivasi lagi.

Jika kamu ada kritik, saran atau hanya sekedar merespon tulisan saya, bisa menuliskannya di kolom komentar. Terimakasih sudah membaca tulisan saya.

Iezel
Share: