Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan

[Cerpen] Sepasang Merpati yang Hilang

thumbnail
Sepasang Merpati yang Hilang
Karangan iezel Lee


Asap rokok mengepul dan perlahan menyebar ke seluruh sudut mikrobus. Meski mikrobus telah sesak penumpang, pemuda berseragam SMK tetap saja meniupkan asap rokoknya. Pemuda tersebut duduk di dekat sopir, sekitar lima orang. Untung saja hanya satu orang yang merokok. Jika semua pemuda itu merokok mungkin mikrobus akan nampak seperti toko liquid vapor keliling, karena penuh asap. Penumpang mikrobus itu seakan terbiasa dengan asap rokok, hanya beberapa ibu-ibu dan tentu saja Adriana yang merasa terganggu dengan asap rokok. Adriana duduk di dekat pintu tengah, sehingga ia merasa cukup lega karena udara dari luar dapat terhirup masuk ke paru-parunya. Meski sebenarnya udara dari luar justru berdebu, ia anggap itu lebih menyegarkan daripada udara di dalam mikrobus yang sesak dan berasap. Adriana menatap wajah suami yang sangat ia cintai itu, tak ada lelaki lain yang begitu ia cintai selain suaminya itu. Kepala Andrianto tertunduk, sambil berdekap tangan dan terlihat kelelahan.

Perjalanan Adriana ke Banjarnegara memang tidak lama, hanya satu setengah jam saja. Namun suaminya memang sedang lelah, karena semalaman suaminya menghadiri rapat warga. Wajah suaminya ketika tidur agak berbeda dengan saat terjaga, begitu lugu dan kekanakan. Dalam hati, Adriana berharap keresahan yang mengganggu mereka di Purwokerto  tidak mengikuti hingga ke Banjarnegara.

Mikrobus itu, berkali-kali membunyikan klaksonnya lalu berdecit. Dengan bergegas kondektur menaikkan penumpang baru, padahal kursi telah penuh dan yang berdiri pun sudah saling bersenggolan. Tiba-tiba mikrobus berdecit lagi di pertigaan sokaraja, Andrianto berbicara kepada istrinya.
“Lihatlah burung itu”, kata Andrianto sambil menunjuk burung merpati yang bertengger di genteng bangunan tua.
Adriana mencoba mencari yang sedang dimaksud suaminya, dan benar saja. Terlihat sepasang burung sedang bertengger di atas sana. Adriana jadi teringat tentang sepasang merpati yang mereka pelihara di Purwokerto, yang menghilang ketika mereka akan berangkat.
“Aku jadi teringat merpati kita mas”, Adriana memanggil suaminya dengan panggilan mas meskipun sebenarnya ia lebih tua satu tahun.
“Merpati itu pergi entah kemana, sudahlah kita relakan saja”

Sebenarnya yang Adriana khawatirkan adalah keselamatan dari merpati, apakah setelah mereka pergi merpati tersebut dapat makanan yang cukup?
Setelah lampu hijau menyala, mikrobus bergerak lagi. Kali ini penumpang telah sesak dan sepertinya mikrobus ini tak mampu mengangkut penumpang lagi. Adriana melihat para penumpang yang berdiri berdesakan, pandangannya kemudian tertuju ke wajah ketakutan dari gadis SMK yang pantatnya tersenggol senggol oleh pria dibelakangnya. Pandangannya beralih ke wajah si pria yang baginya terlihat seperti anjing kelaparan. Dengan umpatan kasar ia gumamkan ketika memandang pria itu. Kemudian ia menatap suaminya, tak disangkanya bahwa suaminya juga sedang memperhatikan gadis itu. Dengan isyarat yang mudah dimengerti, Andrianto mempersilakan gadis itu untuk menempati tempat duduk yang ditempatinya. Namun tak disangka, justru gadis itu semakin terlihat ketakutan dan tidak berani menoleh lagi ke arahnya. Lalu gadis itu minta diturunkan,
“kiri pak”, ucapnya dengan tergesa-gesa.

Mikrobus berdecit lagi, disusul dengan turunnya gadis tersebut. Kelima pemuda yang duduk di dekat supir pun ikut turun. Andrianto menjadi salah tingkah. Ia kemudian memandang istrinya, dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nanti kita ngontrak saja dulu, kalau betah baru kita beli rumah disana. Kalau ada uangnya tapi.”
“Iya mas, aku ngikut mas aja”
Angin terdengar melolong ketika mikrobus melaju semakin kencang, Adriana dan suaminya terdiam.

***
Di Purwokerto, sepasang burung merpati terlihat menunggu seseorang, di samping rumah yang baru seminggu ditinggal pergi sebagian penghuninya. Seorang wanita memberinya makan, ia terlihat cukup tua. Ditunjukkan dari keriput di dekat matanya. Matanya yang sayu, serta bibirnya yang terlihat seperti mawar layu, menambah kesan bahwa ia mungkin telah berumur enam puluhan. Dengan lemah lembut ia elus kepala merpati yang sedang makan bij jagung darinya. Kulit tangannya yang keriput tidak membuat takut merpati tersebut. Malah terkadang, jika wanita tua itu lewat ke samping rumah, merpati itu terbang untuk hinggap di lengan tangannya.

“Sungguh aku tak tahu kalau akhirnya seperti ini, maafkan aku”, wanita itu berbicara kepada merpati.
Semenjak suaminya meninggal ia jadi tertutup dengan orang lain. Sangat sedikit berbicara, kecuali kepada merpati itu. Ia menghabiskan berjam jam untuk berbicara dengan merpati itu. Para tetangga terkadang menganggap kalau dia depresi, terlebih lagi sekarang anaknya memilih tinggal di Banjarnegara. Ia semakin terlihat kurang waras. Kadang terlihat juga ia menangis saat memberi makan kepada burung merpati itu.

***
Di Banjarnegara, sepasang suami istri menjalani kehidupan yang baru. Mereka tidak memiliki anak. Adriana yang semasa SMA pernah diperkosa oleh seseorang di diskotik Baturraden, membuatnya tak bisa hamil lagi. Katanya ia diberi obat di minumannya. Andrianto dengan ketulusan cintanya menerima Adriana yang sebegitu adanya.
Sejak kecil mereka sering bersama karena rumah mereka dekat. Meskipun usianya berbeda satu tahun. Hingga menginjak remaja, mereka masih sering bersama, ngobrol di teras rumah, dan rasa tertarik di antara keduanya muncul, meski dulu tak resmi jadian. Hingga baru setelah kejadian Adriana diperkosa, Andrianto menunjukkan betapa pedulinya ia kepada Adriana. Andrianto yang selalu menemaninya, menyemangatinya, dan melindunginya. Hingga suatu ketika Andrianto memutuskan untuk menikahi Adriana.

“Bu, aku ingin menikahi Adriana”
“Jangan! Seumur hidupku aku tak akan merestui permintaanmu! Tidak bisakah kau cari perempuan lain saja!?”
“Aku sungguh mencintai Adriana bu, tulus. Tidak peduli Adriana sudah tidak perawan, atau mandul, atau bagaimanapun. Tolong ibu restui kami, karena aku memaksa”
“Ibu tak ingin mendengar permintaan itu lagi, ibu akan siapkan perempuan lain untukmu, nanti biar ibu yang bilang ke Adriana.”
“Tak usah, aku tetap akan menikahi Adriana, aku sungguh mencintai dia, hanya kematianlah yang bisa memisahkan kita. Bahkan ibupun tidak bisa!”
“Kau tidak mau menuruti ibu, ibu tak akan menganggap Adriana sebagai menantu!”
“Baiklah meskipun tanpa restu ibu. Toh bapak sudah merestui.”

Mereka berdua akhirnya menikah. Adriana sungguh bahagia mencintai Andrianto yang juga sangat mencintainya. Hingga saat ini cintanya tidak pernah berkurang kepada Andrianto. Mereka berdua menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia.
Namun suatu ketika kebahagiaan mereka agak terusik ketika Adriana menanyakan tentang mertuanya yang sendirian di Purwokerto.
“Mas, apa mas tidak kasihan dengan ibu?”
“Kenapa kau menanyakan hal seperti itu? Kita kesini karena aku membenci ibu”
“Bapakmu bunuh diri itu kemauannya sendiri, bapakmu membenci ibumu juga karena masalah mereka. Mas jangan ikut menghakimi ibu, aku dengar ibumu menjadi sangat depresi semenjak bapakmu meninggal. Kenapa malah mas tidak menemani ibu di saat-saat tersulit?”
“Kau tahu dik, kejujuran adalah hal yang harus ada dalam suatu hubungan. Tapi ibuku lebih memilih tidak jujur. Itu yang membuat saya jadi benci.”
“Sudahlah mas, lebih baik kita maafkan ibu. Lagipula sekarang kan ibu sudah tua, kasihan dia jika disaat-saat tua begini malah menderita.”
Andrianto kemudian tertawa kecil, seakan puas melihat ibunya menderita. Namun air mata dipelupuk matanya tidak dapat berbohong. Bahwa ia juga merasakan penderitaan ibunya, yang ditinggal suami dan anaknya.
“Dik, kalau kamu tahu tentang ibuku kamu juga pasti akan membencinya”
“Aku tahu, bapakmu bunuh diri juga karena tahu ibumu selingkuh kan?”
“Iya, kenapa ia tidak berterus terang saja dari dulu. Aku sangat membenci hal itu”
“Mungkin ibumu tak mau kehilangan cinta bapakmu, atau dia takut bapakmu akan marah besar atau lebih baik kau coba saja tanyakan padanya mas”

***
Purwokerto dihebohkan karena adanya mayat yang tergantung di pohon mangga di samping rumah. Mayat itu adalah seorang wanita tua yang biasanya jongkok untuk memberi makan merpati. Tetangganya berteriak histeris begitu tahu wanita yang kemarin-kemarin sering dilihatnya, telah mati bunuh diri. Ia jadi linglung, diajak bicara orang tidak nyambung. Kadang bergumam tidak jelas. Memang dari kemarin ia sudah terlihat gelisah, namun hari ini ketika matinya wanita tua itu, ia malah menjadi semakin parah.

Para warga berusaha menghubungi anggota keluarga dari mayat tersebut, termasuk juga menghubungi Andrianto. Batin Andrianto begitu terpukul ketika mengetahui ibunya bunuh diri, ia menyesal tidak menemani ibunya, dan meninggalkan ibunya hanya karena kebenciannya. Sebagai penawar sesal, Andrianto bersama istrinya menuju Purwokerto untuk melihat jasad ibunya.
Begitu Andrianto dan istrinya tiba di rumah duka, tiba tiba tetangga yang keliatan linglung tadi berteriak memanggil mereka,

“Andrianto menantuku, Adriana anakku, oh malangnya kalian, sungguh malang, oh malangnya bapakmu Andrianto, oh malangnya diriku, sungguh malang manusia ini”
“Ibu? kenapa bicara seperti itu?”, tanya Adriana.
“Kalian tidak seharusnya mengalami hal ini, tapi hal ini bisa membuatku gila, aku tidak dapat merahasiakannya nak”
Jantung Adriana menjadi berdegup tidak karuan. Namun ia mencoba memberanikan diri untuk mendengar ibunya bercerita. Begitupun Andrianto, yang berdiri disamping istrinya, telah siap untuk mendengar cerita.
“Nak, kau tahu? Almarhum sering berbicara sendiri dengan merpati. Lalu kemarin ibu mencoba untuk mendengar apa yang almarhum katakan. Suatu hal yang memukul batin ibu, ia berbicara bahwa ia menyesal selingkuh dengan almarhum bapakmu nak. Ternyata pria yang berselingkuh dengan almarhum adalah almarhum bapakmu. Almarhum juga mengatakan telah mendapatkan anak karena perselingkuhan itu, kalian saudara sebapak.”, lalu air mata mengalir deras di pipi ibunya Adriana.

Cerita dari ibunya itu membuat Adriana seakan mendengar petir di siang bolong. Pandangannya menjadi redup, lalu tak sadarkan diri. Sedangkan Andrianto melihat dunia seakan sunyi, ia tak mendengar apa-apa lagi selain kata terakhir dari mertuanya, “kalian saudara sebapak” yang terus-menerus terngiang di kepala.
Andrianto menyesalkan ibunya yang menyembunyikan rahasia penting itu entah karena apa, atau ia justru mengutuk kenyataan yang ada, kenyataan rahasia yang kini malah terungkap. Semua perasaannya bercampur tidak jelas.
Semua telah terjadi, apa yang ada adalah kenyataannya. Setelah proses pemakaman selesai, Andrianto dan Adriana memutuskan untuk menginap semalam di Purwokerto. Di rumah duka, diadakan acara doa untuk kematian almarhum. Setelah acara doa selesai, mereka berdua beranjak ke tempat tidur. Namun mereka berdua tidak berkata satu sama lain, tatapan di antara mereka berdua kosong dan muram. Kandang merpati yang di samping rumah juga kosong.
Keesokan harinya, matahari terbit seperti biasa. Menyinari kota Purwokerto seperti di pagi sebelumnya. Andriyanto memulai pembicaraan dengan istrinya yang juga saudara sebapaknya.
“Aku tidak percaya bahwa semua ini adalah nyata, bahwa aku mencintai kakakku sendiri. Namun semua ini kehendak Tuhan. Bagiku kau adalah cinta sejatiku. Seperti kataku pada almarhum ibuku, aku akan mengatakan padamu juga, hanya kematianlah yang dapat memisahkan kita.”
Adriani mengalirkan air matanya dengan begitu deras setelah mendengar ucapan Andriyanto, ia tak menjawabnya dengan kata-kata apapun. Lalu perlahan ia mendekat ke Andriyanto. Merekapun saling berpelukan.
Serpong, 03 Agustus 17

Ini tulisan waktu masih latihan..sekarang lagi iseng iseng lihat folder di laptop, tiba tiba liat ini mending tek taruh blog biar ga ilang..buat kenangan
Share:

[Cerpen] Kacamata Hitam

thumbnail
Kacamata Hitam
karangan : iezel Lee

   Tidak ada benda yang dibuat tanpa tujuan tertentu, misalnya saja sepatu. Banyak kisah yang bisa kita dengar bagaimana sepatu muncul. Ada yang menceritakan bahwa sepatu dibuat sejak zaman es. Sepatu tersebut dibuat dari bahan kulit hewan buruan. Ya tentu saja agar melindungi diri dari dinginnya es yang setiap hari diinjak. Lalu ada juga cerita bahwa sepatu ada sejak peradaban mesir kuno, sepatu dibuat dengan seni dan berhiaskan gambar yang indah. Saat itu sepatu digunakan untuk melindungi kaki dari panasnya gurun sahara, juga untuk menunjukkan status sosialnya. Karena hanya raja dan bangsawanlah yang diperbolehkan mengenakan sepatu. Kini sepatu menjadi benda umum, biasa saja, dan semua orang boleh memakainya.

Seperti Sarjo yang kadang memakai sepatu ketika berguru di negeri awan. Murid-murid lainnya melirik kaki Sarjo yang memakai sepatu itu. Begitupun teman akrabnya, Budi. Sarjo menjadi risih karena menjadi pusat perhatian. Obrolan pun dilakukan untuk mengurangi kerisihannya.

"Halo bud, ada apa? Kenapa kamu melirik ke sini terus?"
"mmmm.. Jo, kenapa kamu memakai sepatu?"
"sandal punya saya sedang dipakai bapak untuk menghadiri rapat warga. Jadinya saya memakai sepatu".
"kasihan, kakimu pasti pengap."
"tidak apalah, toh tidak setiap hari juga."

Sebenarnya Budi merasa aneh melihat Sarjo memakai sepatu. Maklum, ketika berguru di negeri awan ini mereka hanya duduk di dalam ruangan. Untuk apa Sarjo memakai sepatu? Namun di samping itu Budi juga merasa kasihan.

Sarjo dan Budi menjadi cukup akrab karena mereka seringkali mengomentari satu sama lain. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pernah Sarjo mengomentari Budi yang memakai dasi.

"Bud, kau memakai apa di lehermu?"
"dasi, kenapa?"
"sangat buruk, kau seperti anjing yang diikat pemiliknya."
"Dasar kau, aku pakai ini untuk mengelap keringatku. Lagipula apalagi gunanya dasi ini jika ku biarkan tergantung di lemari."
"taruh saja di dalam saku celanamu."
"Biarlah seperti ini saja. Aku lebih suka menaruh dasi di leher. Lebih praktis"
"Terserah kau saja."

Tiga tahun Sarjo berguru di perguruan negeri awan, tiba saatnya Sarjo untuk meninggalkan perguruan di negeri awan tersebut, karena telah semua ilmu di perguruan negeri awan ia dapatkan. Oleh gurunya yang buta, Sarjo disarankan untuk melanjutkan berguru di Negeri Angan-angan. Sarjo adalah murid istimewa. Karena di negeri awan, ia menunjukkan kecerdasannya dalam berpikir. Setiap apa yang diucapkan oleh gurunya, ia dapat mengucapkan kembali. Sangat jarang murid seperti Sarjo. Kebanyakan murid disini hanya memahami maksud dari sang guru dan tak pernah mencoba menghapalkan ucapan gurunya. Gurunya menaruh harapan besar kepada Sarjo untuk dapat menjadi penerusnya.

***
Sarjo pun memulai perjalanannya ke Negeri Angan-angan. Ketika Sarjo sampai di negeri Angan-angan, ia mencari tempat dimana orang-orang berguru. Setelah bertanya ke gelandangan di jalan, ia diberi tau bahwa tempat berguru ada di dekat gunung batu. Lalu gelandangan itu menunjuk ke arah gunung batu di negeri itu dan berkata

"Kau lihat gunung batu itu? Kau perlu melaluinya, di baliknya akan kau temukan tempat untuk berguru. Namun kau perlu tahu, perjalanan untuk kesana akan cukup sulit. Satu-satunya jalan kau perlu mendaki gunung batu itu. Namun ingat, jangan melihat ke bawah ketika mendaki. Karena kalau melihat ke bawah, puncak gunung batu itu menjadi semakin tinggi."
"Terimakasih kau telah memberitahuku. Aku akan berusaha semampuku untuk ke tempat itu."
Di perjalanan ia melihat sedang ada orasi dari penguasa negeri Angan-angan yang buta. Sangat ramai orang yang mengerumuni acara itu. Disana dibagikan pula sembako. Sarjo tidak tahu apakah acara itu ramai karena penguasa yang bijaksana, ataukah karena sembako gratis. Entahlah. Sarjo kembali melanjutkan perjalanannya, di pertigaan jalan ia bertemu dengan pemuda lain yang berjalan ke arah gunung batu.
"Hey kau, kau mau kesana juga?"
"Tentu saja, aku akan kesana. Orang-orang yang telah berguru dari negeri Angan-angan menjadi orang penting. Aku ingin menjadi orang penting. Penguasa negeri misalnya"
"Wah, cita-citamu cukup besar. Kalau aku ingin kesana karena disarankan oleh guruku. Aku ingin meneruskan perjuangan guruku, menjadi guru di negeriku."
"wah, cita-citamu juga bagus. Ayo kita berangkat kesana bersama-sama."
“Ayo, Oh iya, siapa namamu?"
"Panggil saja Parjo. Kalau kamu?"
"Aku Sarjo."

Begitulah awal pertemuan dua calon murid negeri Angan-angan, dan menjadi titik awal persahabatan mereka nantinya.
Mereka berdua mendaki gunung batu bersama, melalui rintangan terjal dan celah-celah batuan yang dalam. Namun berkat saling mendukung dan saling membantu mereka berdua dapat mencapai puncak gunung batu itu dengan selamat.
Dari atas gunung batu terlihat pemandangan yang luar biasa, bangunan megah seperti istana. Mereka semakin bersemangat untuk berguru di sana. Dengan hati-hati mereka melanjutkan perjalanan. Hingga sampailah ke depan gerbang perguruan Angan-angan.
Gerbang perguruan Angan-angan dijaga oleh dua orang berkacamata hitam.
Ketika mereka akan masuk, dua penjaga tadi menahannya dan mengatakan.

"Pakailah ini sebelum kau masuk."
“Baiklah.”
Parjo mengambil kacamata hitam tersebut dan memakainya, Parjo pun dipersilakan masuk. Berbeda dengan Sarjo yang tidak langsung memakainya, ia malah bertanya kepada penjaga.
"Kenapa aku harus memakai kacamata hitam ini?", dengan heran Sarjo bertanya.
Dua penjaga tadi malah tertawa, namun mereka sebenarnya juga tidak tahu.
Salah satu penjaga tadi mencoba menjawab.
"Semua orang yang masuk ke tempat berguru ini harus menggunakan kacamata hitam. Kenapa kamu bertanya hal yang aneh seperti itu? Dari dulu semua orang pakai kacamata hitam untuk masuk. Dengan memakai kacamata hitam, itu menunjukkan kalau kita orang yang sedang berguru disini. Lagipula bukankah keren memakai kacamata hitam."
Sarjo merasa jawaban mereka tidak memuaskan, namun akhirnya Sarjo mengambil kacamata hitam yang diberikan penjaga dan memakainya.
"Nah seperti itu, pakai saja. Lain kali tidak perlu banyak tanya."

Awalnya Sarjo merasa risih memakai kacamata hitam itu. Namun lambat laun ia menjadi terbiasa dan bahkan tidak ia pikirkan lagi kalau ia memakai kacamata hitam.

Dengan giat ia menerima ajaran-ajaran dari gurunya, tugas-tugas ia kerjakan. Seperti mengukir batu membuat tulisan dari ajaran-ajaran yang diberikan oleh sang guru. Kemudian jika telah selesai mengukir, batu tersebut dilemparkan ke belakang gedung perguruan. Entah kenapa guru di sini menugaskan hal semacam itu. Padahal telah bertumpuk-tumpuk batu di belakang perguruan itu dan membentuk bukit batu. Hal itu membuat perguruan ini seperti terkurung diantara batu batu, yaitu gunung batu yang berada di depan perguruan dan bukit batu tugas dibelakangnya.

Suatu hari Sarjo merasa jenuh, dan mengajak Parjo untuk beristirahat di kebun ilalang yang ada di samping kanan perguruan. Namun Parjo yang memiliki cita-cita besar itu tidak ingin beristirahat, ia tetap melanjutkan menulis ajaran-ajaran gurunya di batu.

Perguruan di negeri Angan-angan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perguruannya dulu, perguruan di negeri awan. Hanya saja bahasa dan bahan pembicaraan orang-orang disini lebih tinggi. Seperti membahas korupsi yang dilakukan penguasa, kadang membahas penguasa tega mengabaikan penderitaan masyarakat, membahas beberapa oknum yang bertindak sewenang-wenang, kadang juga membahas perubahan masyarakat. Dulu di perguruan negeri awan, paling paling hanya membahas sejarah para orang penting di negeri.

Lama kelamaan Sarjo menyadari, apa yang sebenarnya dilakukan orang-orang di Perguruan Angan-angan ini hanyalah berangan-angan. Kakak angkatannya yang dianggap berhasil, ya karena dapat membuat penemuan berkat pemikiran angan-angannya.

Misalnya saja membuat "dasi berkancing" atau membuat “arloji penjinak anjing". Meskipun masyarakat tidak ada yang membutuhkannya, perguruan di negeri Angan-angan bangga dengan penemuannya. Ya meski mereka sadar bahwa beberapa hasil penemuannya terlalu dibesar-besarkan. Sarjo pun ikut bangga karena angan-angan kakak kelasnya itu.
Kegiatan yang dilakukan oleh murid perguruan di negeri Angan-angan juga mudah ditebak, ada yang nongkrong di warung kopi. Menurut mereka, nongkrong di warung kopi adalah hal penting agar menjadi orang gaul, keren, dan populer. Tetapi Sarjo tidak tertarik untuk nongkrong di warung kopi, mahal. Alhasil Sarjo menjadi tidak populer, namun hal itu tidak masalah untuk Sarjo, karena ia memiliki teman yang masih mau diajaknya bicara, Parjo.

Ada juga yang sibuk membicarakan kesejahteraan murid sekelas. Membuat kegiatan ulang tahun kelas. Sarjo kadang heran, sepenting apa ulang tahun hingga semua orang diwajibkan iuran? Lalu hal lain yang membuat Sarjo heran, mereka membuat acara bakti sosial setahun sekali. Yang kata mereka bertujuan untuk membantu warga miskin alih-alih karena mereka ikut-ikutan kakak kelas yang pernah membuat acara itu. Apakah dengan acara itu masyarakat benar-benar terbantu? Setelah acara itu mereka jadi tidak miskin lagi?

Ada yang sibuk demo, penguasa bikin ini ditolak, penguasa bikin itu ditolak. Kecuali kalau uang entah akan ditolak atau diterima.
Satu lagi kegiatan yang dilakukan, bermesraan di kamar-kamar asrama. Tukang bersih-bersih seringkali menyaksikan hal tabu dilakukan oleh murid di kamar. Suatu ketika Wandoko ketahuan oleh tukang bersih-bersih tengah bersetubuh dengan murid lawan jenisnya. Dengan emas dua keping, Wandoko meminta tukang bersih-bersih untuk menutup mulutnya. Suatu hari Wandoko ketahuan lagi oleh tukang bersih-bersih sedang membawa gadis ke kamarnya. Kemudian tukang bersih-bersih itu meminta keping emas lebih banyak, Namun Wandoko tidak mau memberikannya bahkan satu keping pun. Wandoko kemudian mengunci pintu kamarnya dan mengabaikan tukang bersih-bersih itu. Karena kecewa tidak mendapatkan yang diinginkan, tukang bersih-bersih memanggil warga berbondong-bondong untuk menggrebek kamar asrama. Dan alhasil, banyak yang kena grebek, termasuk Wandoko. Dipergoki sedang bermesraan di atas kasur. Kabar tersiar ke seluruh penjuru negeri bahwa murid dari perguruan negeri Angan-angan melakukan perbuatan yang tidak berpendidikan, bahkan tak bermoral. Masyarakat semakin memandang rendah perguruan di negeri Angan-angan.

Namun berkat kacamata hitam, pandangan murid dan guru di perguruan Angan-angan menjadi tidak jelas. Murid dan guru perguruan di negeri Angan-angan menjadi tidak perlu memandang ke masyarakat. Mereka hanya perlu berangan-angan. Murid dan guru memiliki dunia sendiri yang penuh angan-angan dan seakan terpisah dengan masyarakat. Bahkan perguruan di negeri Angan-angan pun tak merasakan keberadaan dari masyarakat.

***
Setelah 4 tahun berguru di perguruan Angan-angan, tiba saatnya upacara kelulusan. Sarjo dan Parjo telah lulus. mereka diberi ijasah kelulusan oleh guru mereka, kemudian mereka berjalan meninggalkan perguruan. Setelah agak jauh berjalan, sampailah mereka di gerbang keluar. Ternyata gerbang itu masih dijaga oleh dua orang yang dulu. Salah satu penjaga berkata

“Lepaskan kacamata hitam kalian”
“Aku tak memakai kacamata hitam.”
“hahaha, apa kalian lupa? Kalau kalian selalu memakai kacamata hitam?”
“Ohhh iya, baru sadar aku. Baiklah”
Parjo tanpa basa basi langsung melepaskan kacamata hitam dan diperbolehkan keluar gerbang,
Namun Sarjo merasa aneh, ia bertanya kepada penjaga.
“Kenapa kita bisa tidak sadar kalau kita memakai kacamata hitam?”
“Kalian kurang peka pada hal hal di depan mata kalian. Kalian tidak pernah mempertanyakan tentang kacamata hitam yang kalian pakai. Makanya lama kelamaan kalian tidak menyadarinya,”
“Lalu kenapa bapak penjaga tidak lupa mengingatkan kami untuk melepaskan kacamata hitam?”
“Setiap ada orang melewati gerbang kita mengingatkan kacamata, bagaimana kita lupa?”
“Ohh pantas saja.”

Setelah itu Sarjo dan Parjo berjalan untuk pulang, pandangan mereka menjadi sangat jernih dan terang setelah melepas kacamata hitam. Dengan hati bangga mereka mendaki gunung batu untuk kembali ke masyarakat dan mewujudkan cita-citanya. Namun betapa kagetnya mereka ketika di puncak gunung batu. Silaunya matahari membuat mata mereka sakit dan mereka sulit untuk melihat. Pandangannya pun menjadi gelap dan buta.

Banjarnegara, 2017

Ini tulisan saya buat dulu sewaktu ingin mencoba menulis dengan genre satir. Jelek iya namanya juga baru latihan, tapi saya sendiri cukup suka dengan ide yang sewaktu itu terpikirkan. Semoga bisa dinikmati cerpen saya ini yang alakadarnya
Share:

[Cerpen] Sekedar Pensil Kayu

thumbnail
Sekedar Pensil Kayu
Oleh iezel Lee

Suatu senja di dekat rel kereta, lelaki tua menemukan pensil di antara kerikil dan memungutnya. Pensil itu tidak dicat, polos saja warna kayu. Terlihat dua garis samar yang melintang pada pensil tersebut. “Ini bukan pensil sembarangan, sepertinya ini pensil jaman dulu”, pikirnya. Pensil itu kelihatannya sudah cukup lama tergeletak di sana terlihat dari banyaknya debu dan kerak tanah menempel di beberapa bagian.

Lelaki tua itu duduk di dekat rel kereta, kemudian mengusap pensil yang ditemukannya, ia menjadi terinspirasi untuk menuliskan cerita pendek tentang suatu pensil ajaib yang menjadikan semua yang ditulisnya dapat menjadi kenyataan. “ya, cerita ini pasti akan menarik”, bisiknya kepada dirinya sendiri.

***

Lelaki tua ini tidak percaya pada hal-hal tahayul, ataupun kekuatan di luar sana. Ia hanya menganggap dunia ini ada, dan apapun yang membuatnya ada sudah tidak ikut campur lagi. Ketika ia menemukan pensil di hamparan kerikil, ia menyimpannya. Bukan berarti ia mulai percaya pada tahayul, hanya saja pensil itu terlihat antik, serta masih cukup bagus dan akan berguna untuk menulis beberapa cerita yang ada di kepalanya. Seperti cerita yang baru muncul di pikirannya senja tadi tentang seorang penulis yang mendapat keajaiban melalui sebuah pensil, atau cerita mengharukan yang sudah lama ada dipikirannya, yaitu cerita tentang perpisahan seorang lelaki dengan gadis yang saling mencintai.

“Sebaiknya aku raut dulu”, ia berbicara sendiri.
Lelaki tua ini tinggal sendirian, di sebuah rumah kecil di dekat stasiun kereta. Rumahnya hanya sebesar pos ronda. Bagian depan rumahnya ia isi dengan beberapa botol air mineral, beberapa bungkus rokok, serta beberapa kopi kemasan yang digantungkan pada tali. Di depannya rumahnya ada kursi bambu panjang, biasanya untuk duduk para pelanggan. Ia tidak pernah menikah. Saat muda ia melamar seorang gadis, dan saling berjanji akan selalu mencintai. Namun sehari setelahnya gadis itu pergi entah kemana tanpa pamit ataupun mengucapkan selamat tinggal dengan baik.

Ia tak pernah bisa mencintai orang lain lagi sejak itu. Sempat ia berpikir bahwa mungkin saja gadis yang meninggalkannya itu menikah dengan pria lain. Itu mungkin akan lebih baik daripada pergi tanpa pamit dan tak ada kabar sama sekali. Namun ketika teringat dulu saat mereka duduk di samping rel kereta. Ia jadi yakin suatu saat gadis itu akan kembali dan mereka akan bersama.

“Aku akan menulis cerita yang mana?”, lagi lagi lelaki tua itu berbicara sendiri.
 “Sebaiknya ku gabung saja ceritanya”, jawabnya kepada pertanyaannya sendiri.

Cerita yang ia tulis di awali dengan seorang lelaki berumur 19 tahun yang menyukai gadis sebayanya. Mereka adalah teman semenjak kecil, rumah mereka berjarak tidak lebih dari 100 meter. Akhir akhir ini mereka sering menghabiskan waktu senja di dekat rel kereta tidak jauh dari rumah.

“Kau suka senja kali ini Lia?”, tanya lelaki itu.
“Sangat suka“, jawabnya.
“Jadilah istriku. Aku akan selalu mencintaimu, dan kita dapat bersama-sama menikmati senja.”
“Iya, aku mau jadi istrimu. Aku juga akan selalu mencintaimu”
“Aku ingin menciummu Lia”, pinta lelaki itu.

Tiba-tiba lelaki tua tadi menjadi lelaki yang ditulisnya dan di depannya tengah berdiri gadis itu. Lalu mereka berciuman. Keesokan harinya ia ke rumah gadis itu dan hal yang mengherankan terjadi. Rumah itu kosong, gadis itu pergi, menghilang.
“Ohh, kenapa dia tetap menghilang?”, pikir lelaki itu.

Ia pulang dengan langkah gontai, lalu teringat tentang pensil ajaib yang ada di hamparan kerikil di samping rel kereta. Dengan segera ia mencari pensil itu, dan kemudian menemukannya.

Ia menuliskan suatu cerita lagi.
Cerita yang ia tulis ini di awali dari seorang lelaki berumur 19 tahun yang menyukai gadis sebayanya. Mereka adalah teman semenjak kecil, rumah mereka berjarak tidak lebih dari 100 meter. Akhir akhir ini mereka sering menghabiskan waktu senja di dekat rel kereta tidak jauh dari rumah.

“Kau suka senja kali ini Lia?”, tanya lelaki itu.
“Sangat suka“, jawabnya.
“Jadilah istriku. Aku akan selalu mencintaimu, dan kita dapat bersama-sama menikmati senja.”
“Iya, aku mau jadi istrimu. Aku juga akan selalu mencintaimu.”
“Aku ingin menciummu Lia”

Kemudian mereka berciuman. Karena hari mulai gelap mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, lelaki itu diam-diam mengikutinya. Tiba-tiba lelaki itu menjadi lelaki yang ditulisnya. Dilihatnya gadis itu berjalan pulang. Gadis itu masuk ke dalam rumah. Lelaki itu tetap menunggu dan duduk bersembunyi di balik semak-semak di samping rumah gadis itu. Saat pagi hari telah tiba dilihatnya gadis itu ke luar rumah dengan gaun putih sangat indah. Kemudian lelaki itu berdiri dan hendak menghampirinya. Namun saat itu juga mobil jeep hitam mendekat ke arah gadis itu, dan keluar beberapa lelaki kekar yang menarik paksa gadis itu masuk ke mobil. Dalam sekejap gadis itu dibawa mobil jeep dan kemudian pergi.

Lelaki itu berlari mengejar jeep itu, namun tembakan pistol mengenai dada kanannya. Membuatnya roboh. Samar-samar dilihatnya mobil jeep itu pergi, sebelum semuanya terlihat gelap.
Begitu terbangun sekarang ia sudah berada pada rumah lamanya. Kembali pada tubuh tua yang berusia 60 tahun. Tangannya memegang pensil yang ia temukan sore kemarin di antara kerikil di pinggir rel kereta. Dilihatnya beberapa tumpuk kertas di ujung meja berisi cerita yang ia tulis dan di bawah tangannya tertindih selembar kertas yang masih kosong.

Lalu ia menulis “Lia, aku sangat mencintaimu.”, kemudian air matanya menetes ke atas kertas itu.
“Jika pensil ini memang ajaib mungkin aku akan menulis kau menikah dengan lelaki lain saja. Dan aku akan menunggumu hingga usia 60 tahun. Lalu kau datang menghampiriku, menikmati senja di samping rel kereta.”, begitu pikirnya.

Namun ia tak menulis cerita itu. Ia justru menaruh kembali pensilnya ke saku kanan jaketnya yang lusuh. Ia terpikir tentang sesuatu yang membuat dunia ini ada, dan kadang bertanya-tanya apakah sesuatu itu yang menuliskan seluruh kisah hidupnya? Takdirnya?
Tiba-tiba datang lelaki dan gadis yang berusia 20an ke warung kecil yang juga rumah bagi lelaki tua itu.

“kopi hitam dua”, ucap lelaki itu.
“Iya sebentar,”, lelaki tua kemudian mengambil dua gelas menuangkan kopi ke dalamnya, lalu menyeduhnya dengan air panas yang disimpan di termos.
“Ini silakan,” ucap lelaki tua itu, begitu lelaki tua itu melihat wajah gadis itu ia mengatakan “saat ku lihat wajahmu nona, membuatku teringat pada masa laluku”
“Memang bagaimana masa lalumu pak tua”, gadis itu bertanya
“Dulu sewaktu aku masih tampan seperti lelakimu aku bersama dengan gadis yang cantik sepertimu, namun tiba-tiba gadis itu menghilang.”
“Sepertinya kau benar-benar pak tua yang sedang kami cari, ibu memintaku mencarimu untuk menyampaikan surat ini.”
“Lelucon apa yang kamu buat nona, kau bahkan tak mengenalku. hahaha”, lelaki tua itu tertawa
“Ini bacalah, namun sayang sekali ibuku sudah meninggal karena gula.”, kata gadis itu sembari
menyerahkan surat dengan amplop putih polos itu. Di depan amplop tertulis “Untuk Widi”.
Ohh, ya ampun. Itu benar nama lelaki tua itu tertulis di sana. Tangannya bergetar saat menerima surat itu. Lelaki tua kemudian duduk dan mulai membuka surat itu.

“Widi, aku minta maaf karena tak pernah memberi kabar. Aku waktu itu diculik sama orang kekar, mereka membawaku entah kemana dan aku tak pernah bisa kabur. Begitu sampai di suatu tempat, ternyata tempat itu adalah tempat pelacuran. Setiap malam aku harus melayani lelaki-lelaki bejat. Hingga waktu itu ada seseorang yang membeliku dan membawaku keluar dari tempat itu. Ia mencintaiku, dan akupun juga begitu. Kami menikah. Dia sama sekali tak pernah bertanya masa laluku sehingga akupun tak sempat untuk menceritakan tentangmu. Aku ingin sekali memberitahumu bahwa aku sangat mencintai lelaki ini yang sekarang jadi suamiku. Namun aku tak pernah berani mengirim surat kepadamu atau menemuimu, ku pikir kau pasti akan sangat kecewa jika tahu aku begini. Sekarang bayang-bayang kematian membuatku tak tenang, dan ku pikir sebaiknya aku memberitahumu. Maka beginilah suratku. Semoga disana kau dan istrimu juga bahagia.
Dariku, Lia”

***
Lelaki tua itu kecewa dengan yang ia tulis sendiri, ia membungkus pensil itu dengan kertas berisi cerita yang ia tulis kemudian melemparkannya kembali ke hamparan kerikil.  Ia melihat matahari mulai bersembunyi di atas pohon yang jauh di barat, kemudian ia memutuskan untuk berjalan pulang ke rumahnya.
Tamat

Serpong, September 20, 2017
Share:

Kumpulan Puisi September 2017

thumbnail
Oleh Iezel Lee
haha, sekali-kali majang foto
Berikut adalah 5 puisi yang saya bikin di bulan september ini. Silakan dibaca dan diresapi. Pelan-pelan saja bacanya, biar lebih terasa.

1. Judul : Sajak dan Awan

Ku titipkan sajakku pada awan
Yang menampung air mata rindu sang perindu
Yang menyembunyikan kilat ingatan garis senyuman
Yang menyimpan gemuruh setiap kata yang tertahan
Biar saja begitu
Biar suatu saat menghujanimu

2. Judul : Istirahat Sejenak

air di waduk sempor
dengan tenang beristirahat sejenak
dari lelahnya
setelah tergopoh mengalir dari hulu
hendak ke hilir
di tepian ia menangkap bayangan
lelaki yang duduk
beristirahat sejenak dari lelahnya
hendak menuju nun jauh
dari mata lelaki tertangkap bayangan
gadis yang menunggu sejenak
dengan membisu; Dengan tangan
memegang mawar yang semakin layu
bukan, sepertinya bukan lelaki itu yang dia
tunggu
kali ini sejenak menjadi sangat
lama
seakan abadi
dalam penantiannya sendiri

3. Judul : Bangkai Sajak

Sajakku lahir tua
yang mana sempat kuteriakkan di malam buta
ronta kumeremas lemas
bagai rahim paling nahas
Tanpa suara atau tangisan
ia keluar sebagai gundukan hitam
Menunggu belatung memakan
Masihkah belum cukup bagimu
Cinta yang kuumpamakan tak kau mengerti juga
dan kini telah menjelma bangkai dari sajak usia muda

4. Judul : Anak Kecil yang Abadi

Ku rindu masa lalu
Maka itu ku bayangkan
Anak kecil  yang riang
Berlarian mengejar kapas terbawa angin
Ke arah senja yang matanya berseri-seri
Ilalang berbisik padanya
Janganlah menjadi dewasa
Tetaplah riang seperti sekarang
Lalu anak kecil itu menjadi abadi
Dan membeku dalam waktu
Setiap senja ia berlari
Dalam bayangan seorang perindu

5. Judul : Aku dan Aku yang Lain

Aku terbuang dari kawananku
Terlebih masa laluku
Pernah ingin ku sembunyikan aku
Dan biarkan orang lain hidup dalam diriku
Biar diterima oleh kawanku
Namun aku tak bisa lagi
Bahkan meski tertidur aku tak bisa meninggalkanku
Aku tlah merasa aku
Sementara kita bukanlah aku dan kamu
Kita hanyalah orang lain
Bahkan senyuman kita pun orang lain
Tak ada aku
Hanya bayangan
Yang kita buat
Sementara aku duduk di sudut hati yang resah
Dengan mulut terbungkam
Agar diam dan terlupakan
Namun aku selalu memberontak
Dan kini aku berteriak
Aku yang berkehendak

Ya, segitu doang..namanya juga pemula.
Monggo kritik dan saran..serta sharenya hehehe
Share:

[Cerpen] Aku Menikah

thumbnail
Judul : Aku Menikah
Oleh Iezel Lee

          Betapa bahagianya aku yang hari ini menikah. Pesta pernikahan dimulai, aku memakai pakaian pengantin berwarna putih yang telah ku pilih sebulan yang lalu. Aku duduk di kursi yang bagai singgasana seorang raja di panggung istana. Panggung indah dan diriasi dengan bunga-bunga. Lalu di depan panggung sedang duduk 70 temanku yang juga merupakan teman dari pengantinku. Iya kita memang sudah bersama-sama sejak kecil. Maka teman kita pun juga sama, karena lingkungan pergaulan kita sama. Ku lihat wajah teman-teman terlihat sedih. Mungkin mereka mengira aku tak bahagia dengan pernikahan ini. Pasalnya sebulan yang lalu saat undangan pernikahan tersebar yang tertulis di situ adalah namaku dan Lia yang sudah 12 tahun pacaran denganku. Namun di hari H nyatanya aku malah tidak jadi menikah dengan Lia, justru dengan orang ini yang baru ku sadari lebih pantas untuk ku nikahi.
          Seminggu sebelum hari H, Lia meninggalkanku, selama dua hari aku hanya diam di kamar, duduk termenung melihat mengingat kebersamaanku dengan Lia. Ada ingatan sewaktu kami bermain sepeda air di danau, ada ingatan sewaktu kami duduk di puncak bukit ilalang saat senja.

“Sudah jangan sedih. Meskipun Lia meninggalkanmu masih ada aku di sini. Jangan bunuh diri. Singkirkan pisau itu”, ucapnya padaku
“Tidak, aku tak bisa hidup tanpa Lia. Sudah 12 tahun kita menjalin hubungan ini, aku sangat mencintai Lia. Tapi dia seenaknya saja meninggalkanku. Aku tak mau lagi menjalani penderitaan seperti ini.”
“Dengar, kalau kau bunuh diri aku juga akan mati. Namun itu hal yang sangat menakutkan jika mati seperti ini. Ayolah bangkit lagi. Kau bisa bahagia bersamaku. Aku akan selalu menemanimu.” katanya.
“Ya benar, kau selalu menemaniku. Namun bagaimana bisa aku bahagia denganmu? Di hatiku hanya ada Lia, di pikiranku cuma ada Lia. Bagaimana aku bahagia denganmu?”
“Mulai sekarang cobalah mencintaiku”, ucapnya
Setelah mendengar ucapannya, perlahan aku bisa mengendalikan diri, dan ku lihat tindakan bodoh yang sedang ku lakukan. Segera ku jatuhkan pisau di tangan kananku yang tadi siap memutus nadiku.
“kau benar, biarlah saja Lia pergi. Mungkin sekarang saatnya aku mulai lembaran baru denganmu.”, jawabku

         Hari-hari tanpa Lia menjadi tidak begitu menyedihkan karena dia sangat memperhatikanku, setiap saat dia menemaniku. Saat hujan, aku keluar ke halaman rumah, kita berlarian dibawah hujan. Merasakan tiap tetes airnya menyentuh tubuh.
“Kau tahu? hujan ini bukanlah sekedar air yang jatuh dari langit, ia juga sebenarnya membawa kata-kata rindu yang dipendam setiap orang”, ucapnya
“Wah, tiba-tiba kau jadi penyair. hahaha”
“Dengarkanlah tiap tetesnya,”
Aku mencoba mendengarnya, dan benar saja. Terdengar suara Lia.
Aku jadi sangat sedih di bawah hujan. Aku berhenti berlarian, hanya berdiri saja dan menunduk. Kemudian air mataku menetes bersamaan dengan hujan.
“Kau menangis?”, ucapnya
“Iya, aku mendengar suara Lia.”
“Jangan bersedih, ada aku. Hey, bagaimana kalau kita menikah?”,
“Apa? Kau serius? bagaimana dengan orang-orang kalau tahu?”
“Ahh tak perlu dipikirkan omongan orang, lagipula semua sudah dipersiapkan. Dan aku pikir-pikir kau selalu menemaniku. Jadi lebih baik kau dan aku menikah saja. Barangkali itu akan mengurangi kesedihanmu.”
“Baiklah, kita akan menikah. Nanti aku kabarkan semua orang kalau pernikahanku tetap dilangsungkan,”
Ku beritahukan semua orang yang sudah ku undang bahwa aku akan tetap menikah. Aku juga memberitahukan ke orang tuaku.

Saat makan malam, kuberitahukan ke orang tuaku.
“Bu, Pak, aku nanti jadi nikah.”
“Loh, sama siapa?”
“Rahasia, nanti dateng aja pas hari H.”
“Ya ga bisa gitu. masa calon pengantin dirahasiain”
“Udahlah pokoknya rahasia. Ibu sama bapak juga udah kenal lama sama orangnya kok.”
“Levin, ya jangan gitu. Sini kenalin dulu...”, belum selesai ibu bicara, aku langsung meninggalkan meja makan, kemudian masuk kamar dan ku kunci.
Di dalam kamar, aku kirimkan pesan ke semua orang yang diundang ke pernikahan, mengabarkan kalau aku akan tetap menikah.

     Hari yang ditunggu-tunggu datang. Aku mempersiapkan diri memakai pakaian pengantin dan berdandan.
“Kamu sangat tampan dengan pakaian pengantin seperti itu”, ucapnya saat aku bercermin.
“Aku memang tampan, dan kau orang yang beruntung bisa menikah denganku”, jawabku.
Lalu kita berdua pun tersenyum.
Hal yang mengecewakan adalah orang tua kami ternyata tidak terlihat merestui. Dia hanya menangis duduk di barisan tamu. Seharusnya dia di panggung bersama kami.
Namun tak apalah, pernikahan ini harus tetap berlanjut. Kutunggu penghulu, namun tak datang-datang. Akhirnya kami mengucapkan ijab kabul sendiri.
“Aku terima nikah dan kawin dengan orang yang duduk bersamaku disini dengan mas kawin tersebut yang tadinya buat Lia dibayar tunai.”

Ya memang cukup aneh dengan kalimat itu, namun aku yakin kalau kami sudah menikah sejak saat itu.
Semua teman-temanku terlihat bersedih, namun hal itu tak membuatku menyesali pernikahan ini. Meski Lia meninggalkanku aku tetap harus bahagia. Setelah aku mengucap ijab kabul itu, aku tersenyum pada semua orang. Namun tiba-tiba rasa sedihku muncul, dan air mataku mengalir ke pipiku. Kenapalah aku ini, aku harus kuat. Aku harus bahagia.
Ku lihat ada mobil rumah sakit datang ke pesta kami. “Wah jangan-jangan Lia hidup lagi?” pikirku. “Tapi aku sudah menikah!”, pikirku lagi. “Ohh tak apa, biar dia jadi pengantin keduaku.”, dengan bergegas ku berlari ke arah ambulan.
“Mana Lia?? Mana??”, teriakku kepada orang di ambulans itu.
Orang-orang berseragam rumah sakit itu tidak menjawab pertanyaanku justru malah menangkapku dan menyuntikkan sesuatu ke tubuhku. Ku dengar orang-orang berbicara samar-samar dan banyak yang kudengar mengucapkan kata “gila”.
“Tidak! aku tidak Gila!”, teriakku kepada orang-orang.
“Sologamy!”, teriakku lagi
Begitulah ku sebut pernikahan kami. Mereka menganggapku gila! namun aku tahu aku sangatlah normal, orang-orang saja yang tak tahu rasanya mencintai diri sendiri. Ya, aku mencintainya, dia adalah diriku sendiri!

Tamat

Cerpen ini saya buat setelah baca berita kocak, yang langsung bikin saya geregetan. Imajinasi liar saya terus memaksa untuk menulisnya..yaudah saya posting aje di blog..buat iseng-iseng.
Kalau ada yang pengen kritik, kritik aja ga usah sungkan-sungkan.
Kalau suka, boleh dong di-share..hehehe
makasih loh :)
screenshot beritanya
kalau mau baca berita lengkapnya ini, dari BBC
Share:

[PUISI] Jika Cinta Menjelma Bintang

thumbnail
Kali ini saya akan share puisi yang baru saja saya buat. Saya sangat suka dengan puisi karya Sapardi Djoko Damono yang seringkali membuat perandaian atau juga bahasa metafora. Seperti puisinya yang "aku ingin mencintaimu dengan sederhana". Dengan pilihan analogi yang sederhana tapi begitu menyentuh bagi siapapun yang dapat merasakannya. Kalau belum tahu nanti akan saya tuliskan di akhir postingan puisi karya Sapardi tersebut.

Puisi yang saya buat kali ini masih bertema cinta. Hehe. Soalnya cinta lah yang paling menarik bagi saya saat ini. Puisi yang saya buat cukup pendek. Jadi bacanya pelan pelan aja sambil diresapi. Lanjut, ini puisinya


Judul : Jika Cinta Menjelma Bintang

Jika cinta menjelma bintang
Siapa yang peduli pada satu bintang di balik awan
Kecuali jika kau dan aku percaya ia ada

Namun jika hanya aku yang percaya
Untuk apa ada bintang di sana?
Siapa yang peduli?

Maka biarkan cinta tak usah menjelma
Biar peduli tak perlu siapa
Dan percaya bukan lagi perkara

iezel, agustus 17

Begitulah puisi yang saya bikin.
Oh iya sesuai kata saya tadi.
Saya akan menunjukkan puisi karya Sapardi yang menurut saya begitu menyentuh. Ini dia.


aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Sapardi Djoko Damono

Begitulah edisi postingan puisi kali ini. silakan komentarnya
Share:

Materi Stand UP tentang KIMIA, yang saya pakai ketika mengisi acara kampus

thumbnail
Di acara ulang tahun jurusan di kampus, saya ikut mengisi acara tersebut dgn Stand Up Comedy. Itu penampilan perdana saya dalam hal stand up. Ya karena iseng aja sih.
tp saya sadar poin penting dalam stand up itu harus lucu. Mau bagaimana pun materinya kalau bisa lucu ya berarti udah stand up. Lucu itu dalam arti dapat mengundang tawa, beda dengan ngelucu. Kadang ngelucu itu ga lucu. hhh
intinya lucu disini itu kata ajektif, bukan kata kerja.
Nah disitu saya merasa kurang puas sih sama antusias dari penonton, mungkin karena faktor tempat kali ya.
kan acaranya kebanyakan musik, jadi mungkin yang dateng kesitu karena pengen nonton penampilan musiknya.
Ahh alasan, hhhh.. tp kayaknya itu sih. Soalnya ada lagi yang standup jg antusias penonton sama aja.
Tapi saya belum nyoba stand up di tempat lain juga sih.
mungkin lain kali, buat memastikan. Apakah karena penontonnya yg kurg tepat atau karena saya yang ga lucu. hhh
dan yang mau saya sharing ke kalian adalah materi yang saya bawakan.
Jadi materi saya itu agak nyerempet dengan background saya sebagai mahasiswa kimia.
Dan saya sharing bukan berarti kalian bisa seenaknya pakai ya,
Saya cuman pengen kalian baca aja. Kalau tetep mau pakai ya tolong lah, dipikir-pikir lagi.
Mau stand up harus kreatif. mending nulis materi sendiri aja ya oke?

begini materi yang saya bawa

Materi Stand Up Comedy tentang anak Kimia

Judul : Gara-gara kuliah di jurusan kimia

Saya mau cerita ke kalian. saya agak resah kuliah di jurusan kimia.
gara-gara saya sekarang kuliah di jurusan kimia, ama orang-orang saya dikira tau banget masalah kimia.
Saya sih tau ya kimia, tapi ga berarti tau banget gitu.
Pernah ada kejadian, temen saya nanya emangnya bener ya kalo sakit gigi tuh bisa diobatin pake air kencing pertama..
Saya harus jawab gimana coba..
Karena selama ini ga ada penelitiannya gitu.
Tapi ya karena saya anak kimia, saya berusaha kasih jawaban yang masuk akal dong.
 “menurut saya, sakit gigimu bisa ilang, kalo air kencingnya ditambahin bahan khusus. sianida. Mati aja sana”
Tapi jangan dipraktekin, ntar aneh gitu beritanya.
Seorang anak desa ditemukan meninggal dunia, diduga keracunan air kencing pertama.
Yang baca bukannya sedih malah kesel ya. Goblok lu, kebanyakan micin.
Lagian logikanya gimana ya, air kencing kan air kencing ya. Jorok gitu.
Kloset aja saya yakin teriak teriak tuh kalo idup.
Bangsat bangsat.
Apa nih, air kencing  ya.
Tambahin sianida kek.
Klosetnya lagi sakit gigi.

Terus ada lagi yang nanya, kentut sih bahaya ga kalo kehirup
“ga bahaya kok, Abis itu saya dikentutin. Bangsat”
gatau etika tuh orang,sakit ati saya dikentutin
selang berapa lama tiba-tiba saya kbelet kentut nih.
Sbg anak kuliahan saya ngasih contoh yang baik.
Saya berdiri, trus saya kentutin,
Mampus.
ampasnya ngikut. Olesin sekalian.

Karena saya anak kimia kadang kebawa gitu ke kehidupan sehari-hari.
Misal nih obrolan kalo abis semesteran..
Gimana nilai lu semester ini?
Organik bro
Tau organik? Rantai C. banyak Cnya gitu.
Anak kimia, ngeliat nilai udah kaya ngeliat struktur kimia

Terus waktu dikantin juga kimia bgt lah,
Bu beli bu h20, dikasih kalor 90drajat celsius, tambahin glukosanya dikit sama serbuk yang mengandung kafein.. trus dikasih gaya sentrifugal
Ibunya jawab, pesen kopi item ya mas.
Iya betul bu, selamat lulus pre tesnya bu, silakan lanjutkan ke praktikum.
Abis itu ibunya pake jasleb.

Waktu lagi pacaran,
kamu tau ga ikatan yang paling kuat tuh ikatan apa?
Ikatan kovalen
Bukan, ikatan cinta kita..
Bukan, saya aja mau mutusin lu..
Eh bangsat..

Jadinya saya jomblo,
Kadang saya iri ama gas helium.
Dia sendirian, susah berikatan, tapi masuk golongan mulia.
Nah saya, golongan limbah b3.

Anak kimia itu orangnya pada sibuk-sibuk
ada yang sibuk di laboratorium,
neliti bahan bahan kimia.
ada mitos yang tersebar ke masyarakat kalo bahan-bahan kimia itu berbahaya, dan sekarang saya kasih tau lu lu pada kalo itu bener.
contohnya nih micin, jangan kebanyakan. Bisa bikin bego. Pilih pilih lah kalo beli cemilan. Jangan kebanyakan micin. Micin buat cemilan.
contohnya lagi nih bahan kimia dihidrogen oksida, itu bahaya.
tau kan dihidrogen oksida, h2o, air. Iya bahaya
kalo kelelep.
Ada juga yang neliti bakteri.
Kan katanya yacrut tuh, bakterinya 6,5 milyar ya. saya ga percaya.,
Saya itung.
6 milyar 390juta565
Tanpa dosa dia bilang
Kayaknya itu udah kadaluarsa.
Oh iya, ga sadar ampe 3 taun saya ngitungnya.
Ngomong soal bakteri nih, itu ada sejarahnya. Misal  L.casei shirota strain.karena yang nemuin namanya Minoru shirota.
Trus bakteri E Coli, itu saya tau baru kmarinkmarin dinamain gitu. Jd pas saya liat pake mikroskop ya, bakterinya lagi ngocok.
Ngocok botol yacrut.
Soalnya bakterinya kesel, ngocok botol sambil teriak “knapa bukan saya yang diminum orang-orang.”
Ada penelitian ya yang katanya layar smartphone itu banyak bakterinya, bahkan lebih banyak daripada yang ada dikloset..
saya agak percaya sih, soalnya smartfon itu digunainnya buat macem macem ya, kadang dimotor muka kringetan telponan.
Abis makan pecel, terus selfi. Bakterinya ikut makan pecel deh, nambah banyak.
Trus satu lagi nih yang paling menentukan.
Yaitu karena smartphone digunain buat nonton bokep,
Jadi bakterinya ikut nonton, yang sebelumnya membelah diri sekarang jadi bisa ngent*t.
Jadi ya wajar aja kalo banyak..
Sekian dari saya.

Nah begitulah materi yang saya bikin dan saya bawakan, lucu ga sih? kalo kataku sih materinya udah lucu. tinggal bagaimana cara menyampaikannya di panggungnya tuh yang paling menentukan.
Sekian dulu sharing dari saya.
dah, mau komen silakan
Iezel
Share:

Aku mencintaimu [Puisi]

thumbnail
Aku mencintaimu
sehingga setiap kata
menjadi doa kebaikan
untuk menyertai hidupmu
aku mencintaimu
sehingga setiap pertemuan menjelma
menjadi mata air yang mengalirkan kebahagiaan
ke dalam lautan hatiku
dan aku mencintaimu
sehingga cinta menjadi bualan
kecuali jantung yang berdetak
tak lain untuk mendoakanmu
jul 17
Share:

Kala Kacau [Puisi]

thumbnail
Kala hidup terasa kacau
Burungpun enggan berkicau
Daun daun berguguran
Bersama cita yang lama ditanam
Di bawah bintang
Bermandikan sinar rembulan
Ku pertanyakan
Siapa aku gerangan?
Apa yang ku inginkan?
Tak juga ku dengar jawaban
Selain bayang-bayang,
Yang ikuti gerakan tuan
Jul 17
Share:

Sang Pengelana [Puisi]

thumbnail
ku pandang senja
namun pikiran entah kemana
sang pujaan hati ada disana
di balik awan ketidakpastian
inilah derita sang pengelana
mencari rusuk yang entah dimana
bukan salah jalan tak tunjukkan
bukan salah awan menyembunyikan
hanya takdir yang boleh mengucapkan
nama siapa yang kan diikrarkan
juli 17
Share:

Jika [Puisi]

thumbnail
Jika kematian berjarak hembusan angin
siapa memahami hidup
selain takdir yang membawa air
ke lautan perhentian terakhir
Juni 17
Share:

[Cerpen] Bulan

thumbnail
Bulan
By : Iezel Lee
“Jika aku harus memiliki rasa sayang, aku tidak mau disebut penyayang. Dan jika aku menyayangi, maka lebih baik aku lakukan dari jauh.”
Selalu saja lautan tertarik kepada bulan, entah karena bulan yang sinarnya begitu indah, atau hanya karena mereka saling bertatapan di malam hari. Begitu pula seorang nelayan yang tertarik pada lautan, entah karena lautan menyimpan kebahagiaan untuknya atau karena mereka hanya ditakdirkan bersama. Seringkali orang-orang mengartikan bahwa nelayan adalah laki-laki, dan wanita adalah lautan. Namun bagiku, laki-laki lebih pantas disebut bulan. Jika ada lautan yang mencintainya.
Entah apa yang sedang kau lakukan saat ini, untuk sebentar saja bayangkan kalau kau adalah lautan, karena kau wanita. Kau dapat menenggelamkan perasaan apapun, dapat menanggung perasaan apapun, bahkan cinta sekalipun. Dasar hatimu begitu dalam, nelayan harus mati jika ingin mencapainya. Karena itulah aku tak ingin menjadi nelayan, aku ingin menjadi bulan, yang memandangmu dari kejauhan. Meskipun nanti ‘kan kesepian. Kusadari hal ini ketika kita tak bisa bersatu.
***
“tling..tlililing..tling..tlililing”, aku mendengar bunyi sesuatu.
Aku cari-cari asal bunyi tersebut dengan mata masih setengah melek. Nah ketemu! Ternyata bunyi itu berasal dari alarm hape. Dengan agak ngantuk aku berusaha mematikan alarm tersebut. Tapi kok ini beda ya alarmnya, agak susah dimatiin. Aku kucek mataku agar bisa lebih jelas melihat tulisan di layar hape, Kubaca tulisan yang muncul, “Tanggal Jadian Tiga Hari Lagi” ooh ternyata ini pengingat yang kubuat sewaktu dulu. Tahu sendirilah kalau laki-laki kadang lupa dengan tanggal jadian. Lupa di sini maksudnya lupa kalau tanggal jadiannya sudah sebentar lagi atau malah sudah lewat, atau bisa juga maksudnya benar-benar lupa tanggal jadiannya kapan. Ada laki-laki seperti itu? Mungkin.
Meski tubuhku masih tergeletak di kasur. Khayalanku terbang ke dalam kenangan kita selama ini. Sudah hampir satu tahun kau menjadi kekasihku. Bersamamu selama ini membuatku tahu bagaimana kebahagiaan bisa muncul di hati. Sederhana saja, yang pertama kita pejamkan mata, lalu yang kedua kita buka mata bersama-sama. Dengan begitu kita dapat saling menatap, baik saat mata terpejam maupun terbuka. Begitulah bagaimana kebahagiaan muncul.
Tapi aku lebih suka menatapmu ketika membuka mata. Aku merasa tenggelam dalam tatapan matamu. Aku jadi teringat saat itu, saat kita merebahkan badan di rerumputan dekat sungai kecil. Mata kita saling bertemu, seakan sedang menjelaskan sesuatu. Sejak saat itu aku suka sekali menatap matamu. Ahhh sebaiknya aku mandi dan bersiap-siap menemuimu.
***
“Iih, jangan ngeliatin terus, malu.”
“Malu kenapa? ‘Kan kita pake baju?”, jawabku sekenanya.
“Iih sayang, malu, jangan ngeliatin terus”, jawabmu lagi sambil menutupi matamu.
Lalu senyuman kecil terlukis di wajahmu. Di bangku teras rumah kosmu ini kita sering menghabiskan waktu bersama; mengerjakan tugas, menonton film, mengobrol, atau bahkan hanya sekedar diam.
Memanglah benar wanita itu seperti lautan, sedalam apapun aku melihat matamu, tak kulihat juga bagaimana dasarnya. Apakah kau benar-benar malu? Apakah kau menyembunyikan sesuatu? Apakah kau benar-benar mencintaiku? Entahlah. Lagipula untuk apa aku harus tahu?

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Aku mengajakmu ke tempat makan favorit kita, Lava D’Cafe. Tempat ini selalu ramai pengunjung, ada yang berpasangan, ada juga yang sendirian. Kemudian kita berjalan masuk ke dalam, beruntung masih ada tempat duduk di pojokan. Kita memesan menu seperti biasa, Rice Bowl Roasted Beef Blackpepper. Semuanya seperti biasa, kita makan seperti biasa. Ngobrol seperti biasa. Kecuali saat setelah selesai makan.
“Kamu seneng kita kesini?”, tanyaku basa-basi.
“Iya seneng sih, tapi ‘kan udah sering yang?”, jawabmu.
“Ya tapi enak tempatnya, makanannya juga. Daripada kita ke tempat lain yang belum pernah, trus malah ga enak gimana?”, jawabku membela diri.
“Iya deh, seneng kok”, lalu terlukis senyuman kecil di wajahmu.
“Merem deh yang”
“Kenapa? Mau macem-macem ya?!”, tanyamu curiga.
“Engga, ya kali orang rame begini!”, jawabku spontan.
“Ohh jadi kalo sepi kamu mau macem-macem?”, kamu makin cerewet.
Akhirnya aku pegang pipimu, dan kukatakan dengan lembut.
“Aku mau ngasih sesuatu buat kamu, di hari yang spesial ini.”
“Ngasih apa ya?!”, jawabmu dengan suara cempreng.
Huh masih nanya aja, kamu emang kadang sulit untuk tidak cerewet.
“Merem dulu makanya.”, kataku.
Akhirnya kamu merem,
“Buka mata yang,”, kataku lagi.
“Wihhh, boneka. hehe. Makasih sayang!”, jawabmu dengan muka berseri-seri.
Aku memberikan sebuah boneka shaun the sheep untukmu karena dua alasan. Pertama karena rambutku seperti shaun the sheep, kedua karena duitku hanya cukup untuk membeli itu. Dan aku berharap alasan yang kedua jangan sampai kau tahu.
“Ini aku juga ada sesuatu buat kamu, merem dulu ya?”, kau memintaku memejamkan mata juga.
“Mana sini langsung kasih aja, kayak anak kecil pake merem segala”, jawabku meledek.
“ihhh curang, tadi aja aku mau merem”
“Lah ‘kan itu salahmu, wlee”
“Yaudah ga jadi tek kasih lah, wlee”
“Ehhh, iya deh aku merem, masa iya ga jadi ngasih. hm”, akhirnya aku menyerah.
“Dah, boleh buka mata sekarang”
Kamu memberikan sepasang sepatu sneakers, cukup bagus sih. Warnanya coklat, modelnya keliatan anak muda. Wah, ini hadiahnya bagus banget. Kayaknya harganya jauh beda kalo dibandingin hadiah dari aku. Namun aku tak peduli lah, yang penting tulus ngasihnya. Lalu aku mencoba sepatu itu.
“Yahhh, kekecilan”
“Yaudah, sini balikin!”
“Jangan, masih muat kok”, langsung kupegang erat-erat sepatu itu dan kumasukkan ke dalam tas.
***
Liburan semester telah tiba, dan ini adalah kedua kalinya aku LDR sama kamu. Yogyakarta-Semarang. Ya meski sebenarnya bisa aja sih ketemu, tapi jauh, pernah aku ke rumahmu 4 jam lama perjalanannya. Sampai pantatku panas, yaudah kali ini kita LDR aja deh.

***
Suatu hari, kau mengetahui aku berhubungan dengan wanita lain,
“Kamu selama liburan sering telponan sama dia?”, tanyamu setelah melihat riwayat panggilan di hapeku.
“iya, dia aku anggep temen.”
“Tapi masih sayang?”, kamu menanyakan perasaanku.
“Engga..”, jawabku. Memang sih aku merasa nyaman berhubungan dengan dia lagi, Tapi bukan karena aku sayang sama dia. Itu karena kamu yang membuatku ragu, jadi aku ingin bersama wanita lain.
“Kalau udah engga sayang, ngapain masih sering telponan?”, kau bertanya lagi.
“Iya aku masih sayang”, aku tahu kau sudah meragukanku, atau itu karena aku yang lebih dulu meragukanmu? Atau kau menyembunyikan sesuatu sehingga aku ragu? Atau kita berdua sebenarnya menyembunyikan sesuatu? Entahlah.
Lalu kau terlihat bersedih, atau marah? Entahlah. Aku bahkan tak bisa mengerti dirimu. Sebenarnya aku tak menyesali perbuatanku, selingkuh ini, atau kusebut saja bunuh diri ini atau mati? Memang hal itu diperlukan nelayan untuk bisa mencapai dasar lautan.
Tiba-tiba dalam sedih, atau marahmu? Kau munculkan nama seseorang yang kukira telah tenggelam.
“Aku udah bela-belain milih kamu, dua tahun aku suka sama Romeo, terus aku lupain dia demi kamu. Eh malah kamu selingkuhin aku!”, katamu.
“Bodo amat! mau dua tahun mau sepuluh tahun. Baru segitu aja pamer!”
Aku tersenyum mendengar jawabanmu.
***

Sejak hari itu aku memutuskan untuk berhenti menjadi nelayan, aku ingin menjadi bulan. Aku tak ingin mati untuk yang kedua kalinya. Jika aku menjadi bulan, aku masih dapat memandangmu dari kejauhan, aku masih dapat menemanimu kala malam. Aku tak perlu tahu bagaimana isi hatimu, aku hanya ingin memberikan cahayaku, dan kau akan tetap menjadi lautan yang dapat memendam segala perasaan.
“Kita udahan aja ya”, kataku.
Lalu kau menangis, kau tak merelakan kita untuk putus, kau terlihat seakan-akan sangat mencintaiku.
“Kok kamu jahat sih, aku lagi sayang-sayangnya sama kamu. Kenapa kamu malah pengen kita udahan?”, tanyamu sambil menangis tersedu-sedu.
“Aku ga pengen pacaran, aku juga udah ga pengen sama kamu. Kamu udah ga menarik”, jawabku dengan agak kasar. Entahlah, yang kuinginkan hanya putus darimu. Bagaimanapun, aku tak ingin jadi nelayan, aku ingin menjadi bulan, yang menyayangimu dari kejauhan.
“Jika aku harus memiliki rasa sayang, aku tidak mau disebut penyayang. Dan jika aku menyayangi, maka lebih baik aku lakukan dari jauh.”
Begitulah kata-kata Zarathustra yang ditulis Nietzsche semakin menguatkanku.
***
Telah satu tahun aku menjadi bulan, kusadari beberapa hal; kesepian, sendirian, dingin,dan gelap, Namun melihatmu berombak-ombak, seakan tertarik olehku membuatku bahagia menjadi bulan. Mungkin begitulah harusnya lautan mencintai bulan. Hingga kemudian dari jauh kulihat kau ‘tlah bersama seseorang.
“Kamu sekarang pacaran sama dia?”, tanyaku.
“Iya, emangnya kenapa?”, jawabmu.
“Kamu cuma akan buang-buang waktu”, jawabku.
“Tergantung sama siapa sih pacarannya!”, jawabmu lagi seakan menyindirku.
Lalu aku tersenyum mendengar jawabanmu.
***
Beberapa bulan berlalu, tiba-tiba terdengar kabar bahwa kau telah putus dengannya.
***Selesai***

Hay pengunjung Iezel.xyz, saya mau beritahu dulu bahwa saya suka sekali cerpen. Karena itulah saya ingin membuat postingan cerpen-cerpen bikinan saya sendiri di blog ini. Ohh iya, kalian jangan asal copas ya, misalkan anda ingin mengcopy cerpen saya sertakan juga penulisnya, ya kalau engga linknya dehh. Okey?

Tiap kali saya selesai membuat cerpen, saya akan menaruhnya di blog ini. so, bagi kamu yang suka cerpen dan ingin terus membaca cerpen bikinan saya, bisa follow blog ini, atau like fanspage facebook iezel untuk mendapatkan updatenya.
Ada juga penawaran jika cerpen anda ingin dimuat disini silakan hubungi saya selaku admin melalui halaman kontak.
Thx for your attention, see you
Iezel
Share:

[Cerpen] Kenangan Sania

thumbnail
Kenangan Sania
By = Iezel Lee

“Lihatlah rembulan itu, Sania”, Rojib menunjuk ke arah cahaya bulan berasal.
“Iya, kenapa?”
“Indah ya?”
“Kamu benar, Jib”
“Tapi kamu lebih indah, Sania”

Gadis kecil itu tersipu, hingga lesung pipitnya tak bisa disembunyikan. Lalu Rojib mengenggam tangan Sania. Dua orang itu tengah duduk berdampingan di bangku halaman rumah Sania. Ahhh, malam memang selalu indah karena rembulan.

Rambut Sania dibiarkan lurus terurai dengan hiasan mawar merah di atas kuping kirinya. Kepalanya perlahan merebah ke pundak Rojib. Tiba-tiba warna hiasan mawar merambat ke pipinya seakan tahu bahwa gadis kecil itu tengah malu-malu.

Sejenak kedua anak kecil itu tak bersuara, bangku yang mereka duduki juga terdiam, hening malam pun membuat suasana semakin lengang. Lalu bangku itu tersenyum, sepasang anak kecil tengah menatap rembulan. Di kejauhan, rembulan juga tersenyum menatap mereka semua.

“Sebentar lagi awan itu menutupi rembulan”, kata Rojib
“Iya, sebentar lagi rembulan hilang”
“Kau tahu Sania? Sebenarnya bukan rembulan yang hilang. Tapi kita”
“Kenapa begitu?”, tanya Sania
“Karena rembulan selalu ada di sana. Hanya kita tak bisa melihatnya. Kitalah yang menghilang sebab rembulan tak tahu apakah nanti setelah awan hitam memudar, kita masih di sini atau tidak.”

***
Angin dingin bertiup tak ramah, kilatan cahaya menusuk cakrawala yang hitam. Sania merasakan ada kecemasan dalam dirinya. Lalu dia bertanya pada Rojib
“Tidakkah kau ingin menjadi rembulan?”
“Apa?”
“Menjadi rembulan, agar kau tak menghilang?”
“Aku tak ingin menjadi rembulan.”, jawab Rojib
“Kenapa?”
“Kau tahu Sania, rembulan itu kesepian, dia tak pernah tahu rasanya duduk disini bersamamu. Dia tak bisa
menjadi diriku karena itulah aku tak ingin menjadi rembulan”

Gadis kecil itu tersipu lagi, senyuman kecil memudarkan wajah cemasnya.
Lalu langit menangis, seperti bayi yang menangis ketika bangun tidur. Tangisan tanpa kesedihan, hanya kecemasan. Sepertinya langit mengetahui apa yang Sania rasakan.
Sania melepaskan genggaman Rojib, lalu berdiri menengadahkan tangannya merasakan tetesan langit. Sania memang menyukai hujan.

Lesung pipit Sania kali ini terlihat sangat jelas, membuatnya terlihat sangat manis. Dan bibirnya yang basah terkena hujan, diam-diam membuat Rojib ingin mencium Sania namun ia tak pernah berani melakukannya.
“Jib, tidakkah kau ingin merasakan hujan ini?”
“Aku sedang merasakannya”
“Dengan diam seperti itu?”, tanya Sania
Lalu Sania menarik tangan Rojib, dan mengajaknya berlarian di halaman rumah Sania. Di tengah hujan ini, mereka seperti anak kecil yang menikmati setiap waktu yang sedang ia jalani, seperti anak kecil yang melompat kegirangan ketika hujan, seperti anak kecil yang tak pernah cemas akan kematian.
Kedua anak kecil itu berlarian tertawa riang. Hujan berlangsung lama, seakan abadi, tak pernah akan berhenti. Sekilas, mereka semua membeku dalam aliran waktu.

***
Seekor burung belandung terheran-heran melihat semua kejadian itu. Burung belandung sedari tadi memperhatikan bangku tersebut dari atas pohon beringin yang tumbuh tidak jauh dari situ. Burung belandung tahu bahwa bangku itu sedang membayangkan sepasang anak kecil tengah duduk di atasnya, saling menggenggam tangan, menatap rembulan yang indah. Kemudian hujan membasahi mereka, dan kedua anak kecil itu berlarian di tengah hujan. Burung belandung tahu kedua anak kecil itu sebenarnya tidak ada. Burung belandung sangat ingin menghibur bangku kalau ia bisa.

Bangku menyadari keberadaan burung belandung, yang tiap malam melihatnya dari atas pohon beringin, ia tahu pasti burung belandung menganggap kedua anak kecil yang sedang duduk di atasnya tidak ada. Bangku tahu burung belandung tidak dapat merasakan keberadaan kedua anak kecil ini ketika malam. Pandangan burung belandung agak kabur karena gelap.

Kedua anak kecil tidak tahu bahwa bangku dapat berhalusinasi. Mereka tidak tahu bahwa rembulan tengah tersenyum melihat mereka. Mereka tidak tahu keberadaan burung belandung di atas pohon beringin yang tidak jauh dari situ.

***
Seekor burung belandung yang terduduk di atas pohon beringin lama kelamaan merasakan kesedihan si bangku. Ia tahu bangku itu sedang membayangkan sesuatu yang tidak ada. Yaitu sepasang anak kecil yang tengah duduk di atasnya, saling menggenggam tangan, menatap rembulan yang indah. Lalu membayangkan hujan, dan dua anak kecil yang duduk itu kemudian berlarian dengan girang. Burung belandung menangis. Perlahan, ia mengepakkan sayapnya. Lalu terbang dan hinggap di atas bangku itu.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara langkah kaki ibu Sania yang berjalan mendekat ke kamar Sania,
“Sania, Ini makan dulu, ibu masakin telur mata sapi kesukaanmu”, kata Ibu Sania, disusul dengan tetesan air mata

Sedari tadi sebenarnya beliau sudah tahu anaknya sedang menatap kosong keluar jendela kamarnya.

Sania tidak menjawab suara ibunya, bahkan Sania sudah tidak tahu bahwa ibunya sedang berbicara kepadanya. Sania seakan tidak ada disitu. Sania sedang bermain-main di dunianya sendiri.

Sebenarnya ibu Sania tahu Sania sedang membayangkan Rojib. Dulu mereka seringkali duduk berdua di bangku halaman rumah. Namun sekarang, bangku itu sudah tidak pernah diduduki siapapun. Bahkan Sania pun sudah tak pernah duduk disana lagi, Sania hanya berdiam diri di kamar menatap kosong keluar jendela. Ibunya hanya bisa menangis namun berusaha menghiburnya. Sania tidak gila, ia hanya tenggelam dalam kenangannya.

***Selesai***

Hay pengunjung Iezel.xyz, saya mau beritahu dulu bahwa saya suka sekali cerpen. Karena itulah saya ingin membuat postingan cerpen-cerpen bikinan saya sendiri di blog ini. Ohh iya, kalian jangan asal copas ya, misalkan anda ingin mengcopy cerpen saya sertakan juga penulisnya, ya kalau engga linknya dehh. Okey?

Tiap kali saya selesai membuat cerpen, saya akan menaruhnya di blog ini. so, bagi kamu yang suka cerpen dan ingin terus membaca cerpen bikinan saya, bisa follow blog ini, atau like fanspage facebook iezel untuk mendapatkan updatenya.
Ada juga penawaran jika cerpen anda ingin dimuat disini silakan hubungi saya selaku admin melalui halaman kontak.
Thx for your attention, see you
Iezel
Share:

Bayang Mimpi [Puisi]

thumbnail

Sesaat kau muncul dalam mimpi
Lalu senyummu meluluhkan hati
Namun hanya sekejap lalu pergi
Kemana senyummu lagi?
   Pilu muncul dalam bayang temaram
   Lalu memudar, dan tinggal ingatan
   Mimpi ini terasa nyata
   Seperti jingga saat senja
Malam pun datang
Senyummu muncul kembali
Namun ada di samping bintang
Jauh disana, seperti mimpi
   Malam akan berganti pagi
   Hidup begitu sunyi
   Mana nyata mana mimpi?
   Nanti kutanyakan pada mentari

Iezel

Share: